Tag Archives: rezim

Konflik Suriah

Konflik di Suriah berawal dari sebuah protes
terhadap penangkapan beberapa pelajar di kota
kecil Daraa. Ketika itu Maret 2011, 15 pelajar
berumur antara 9-15 tahun menulis sloganslogan
anti-pemerintah di tembok-tembok
kota. Slogan-slogan itu berbunyi, “Rakyat
menginginkan rezim turun.” Anak-anak ini
kemungkinan terinspirasi oleh pergolakan di
Tunisia yang menyebabkan Presiden Zainal
Abidin bin Ali turun pada 14 Januari 2011,
dan pergolakan Mesir yang mengakibatkan
jatuhnya Presiden Hosni Mubarok pada 1 Februari 2011. Melihat aksi 15 pelajar itu, polisi
Suriah yang dipimpin oleh Jendral Atef Najib,
sepupu Presiden Bashir al Assad menangkap
dan memanjarakan anak-anak ini. Akibatnya,
lahirlah gelombang protes yang menuntut
pembebasan anak-anak tersebut. Reaksi
tentara terhadap protes itu berlebihan, mereka
menambaki para pemrotes dan mengakibatkan
4 orang meninggal. Reaksi itu tidak meredakan
protes, sebaliknya protes semakin meluas dari
Deraa menuju kota–kota pinggiran Latakia dan
Banyas di Pantai Mediterania atau laut Tengah,
Homs, Ar Rasta, dan Hama di Suriah Barat,
serta Deir es Zor di Suriah Timur.

Protes dan demonstrasi ini kemudian
berkembang menjadi perang sipil yang
dahsyat. Perang ini tidak saja menggunakan
senjata konvesional sebagaimana layaknya
yang digunakan dalam perang, tapi juga
menggunakan senjata kimia. Ada pandangan yang menyatakan bahwa perang yang saat ini terjadi Suriah adalah
perang antara mazhab Syi’ah yang diwakili oleh
Bashar al-Assad dan para penentangnya yang
bermazhab Sunni. Pandangan ini dibangun
atas fakta yang terjadi di Suriah: ada dua
kekuatan besar yang sedang bertarung, yakni
Arab Saudi yang bermazhab Sunni dan Iran
bermazhab Syi’ah. Fakta lainnya adalah bahwa
pemerintahan Assad didukung oleh Iran dan
gerakan Hizbullah, Iran merupakan negara
yang bermazhab Syi’ah dan Hizbollah adalah
gerakan berhaluan Syi’ah yang bermarkas di
Lebanon.

Sebaliknya para penentang Assad
mendapat dukungan negara-negara yang
bermazhab Sunni seperti Arab Saudi, Quwait,
dan Afganistan. Dengan merujuk peta konflik yang
terjadi di Suriah, pertanyaan menarik yang
perlu diajukan adalah apakah benar konflik
di Suriah kemudian bisa dikatakan sebagai
konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan
teologis? Terlalu sederhana untuk menyatakan
bahwa konflik tersebut merupakan konflik
teologis, meskipun asumsi tersebut juga tidak
bisa diabaikan sama sekali. Sebuah konflik
terjadi tidak disebabkan oleh satu sebab
tunggal. Konflik selalu lahir oleh sebab yang
kompleks dan diliputi oleh banyak faktor dan
kepentingan. Isu agama biasanya merupakan
salah satu faktor pemicu di antara faktor-faktor
yang lahir sebagai penyebab konflik